Beauty Standard VS Body Shaming
Yah
beauty standard itu adalah salah satu bentuk aturan yang sebenarnya tidak
pernah ada dalam Undang-undang manapun, bab apapun ataupun pasal apapun juga.
Beauty standard ini tercipta dari salah satu makhluk Tuhan yang senantiasa
melintirkan segala hal “manusia”. Sebenarnya beauty standard ini sangat sangat
penting di negaraku, kenapa ? karena hal yang paling diutamakan saat adanya
pertemuan adalah penampilan, dalam event apapun itu yang paling utama adalah
penampilan. Mau itu dari desa sekalipun. Kita berlomba-lomba untuk tampil
memukau dihadapan banyak orang, alis ditebang lah, bulu mata direboisasilah,
inilah itulah segala macam.
Beauty
standard segalanya harus memukau, alisnya tidak boleh tebal sekali atau terlalu
tipis, bibirnya harus seksi bodynya harus langsing, putih dan lain-lain
sebagainya. Itu semua adalah aturan yang dibangun oleh masyarakat kita sendiri
sehingga jika ada yang melenceng dari itu semua tidak dimasukkan dalam kategori
perempuan cantik atau dibawah beauty standard.
Sebagai
contoh tentang kasus hukum yang sering menjerat para netizen yang mengkritisi
penampilan artis, bentuk alis misalnya atau payudara atau bahkan warna kulit
(body shaming), dapat kita ambil pelajaran bahwa Negara ini dengan masyarakatnya
lebih menjunjung tinggi pengobatan dibandingkan dengan pencegahan yah. Padahal
kan peribahasa yang sering kita dengar bahkan dari jaman saya belum masuk SD,
orang tua sata selalu saja mengingatkan agar rajin makan agar tidak terkena
sakit maag dan istilah itu adalah “lebih
baik mencegah daripada mengobati” tapi kenyataannya jauh dari harapan.
Kebanyakan masyarakat lebih suka menganut ajaran agar mengobati itu lebih manjr
daripada mencegah.
Misalnya
saja kasus body shaming yang merajalela ini, saya saja yang bukan artis, bukan
apa-apalah gitu yah sering kena dari netizen yang bahkan kenal saya saja tidak
sama sekali, apalagi artis terkenal seperti Ayu Ting Ting misalnya.
Sampai-sampai si pelaku bisa saja terjerat kasusu hukum. Nah dikasus ini bisa kita lihat setiap ketemu
dengan teman lama misalnya hal yang paling utama jadi pembicaraan yaitu
“fisik”, kok kamu gendutan yah, kok kamu makin cantik yah setelah lulus SMA,
pake perawatan apa? Ehh ini ehh itu. Jadi siapa yang bisa kita salahkan dari
semua kejadian ini ? kita terlalu menjunjung tinggi fisik seakan-akan tidak ada
yang lebih penting lagi selain fisik kita. Atau bahkan bisa kita katakana kita
menpertuhankan fisik, bagaimana tidak body shaming merajalela kalau situasinya
seperti itu. Harusnya semua kita ambil pelajaran, bisa tidak setiap ada
pertemuan basa-basinya jangan fisik agar nantinya kita terbiasa, dan dengan
sendirinya body shaming ini akan berhenti karena taka da lagi yang harus pusing
dengan penampilan kita.
Jadi siapa yg salah?
BalasHapuskamu yang salah, selalu bilang aku kecil
Hapus