Pendapatku tentang pernikahan



Entah sekian abad aku tidak pernah nulis di blog lagi seperti dulu, pertama karena malas yang kedua karena malas dan yang ketiga adalah malas. LOL. Ia emang bener setelah fakum cukup lama alasannya Cuma satu karena aku ini sebenarnya adalah seorang pemalas yang mau mencoba nyingkirin rasa mala situ. Oke pada tilisan kali ini seperti judulnya aku akan menulis dan memberikan pendapatku tentang topic yang cukup sulit bagi sebagian orang termasuk aku sendiri.
            Seperti yang kita ketahui bahwa pernikah di Indonesia ini adalah suatu yang perayaannya luar biasa bahkan bisa menghabiskan sampai puluhan, ratusan, bahkan milyaran juta rupiah. Luar biasa. Semua keluarga besar berkumpul untuk hadir diacara yang digelar super mewah tersebut, mengenakan baju yang paling bagus dan baru bagi mereka untuk terlihat special dihari pernikahan tersebut.
            Pernikahan adalah sebuah penyempurna agama, dan harusnya semua manusia itu menginginkan pernikahan terjadi dalam hiidupnya Cuma satu kali seumur hidupnya. Setiap orang juga punya ideal type untuk pasangannya kelak. Kalau aku sendiri ideal typeku itu bisa tiap saat berubah hahaha. Waktu masih remaja dulu maunya yang ganteng, putih, tinggi pokoknya shallow banget.
            Terus kalau tentang umur yang ideal untuk menikah sebenarnya dan harusnya tiap-tiap orang itu tau kapan sebenarnya ia menjadi ideal untuk menikah bukan orang lain yang tau tapi diri kita sendiri. Kalau kita rasa pada umur belasan kita sudah siap dengan segala konsekuensi, siap secara lahir dan batin ya sudah emang sudah waktunya. Tapi kalo bahkan umur sudah 20-an 30-an bahkan 40-an kalo emang belum siap lahir batin yah nggak masalah. Karena kan nggak ada yang lebih tau diri kita sendiri kecuali kita sendiri. Nanti juga akan datang waktunya dimana kita sudah siap untuk itu semua.
            Mengapa perlu kesiapan lahir dan batin? Pertama karena pernikahan bukan Cuma tentang istri yang ngurusin suami, bukan hanya suami yang harus cari nafkah buat istri dan anaknya tapi bagaimana suami sebagai pilot dan istri sebagai copilot bisa menerbangkan pesawatnya tanpa kendala dan bahkan jatuh ke bumi. Suami tetap jadi pengambil keputusan tapi suami juga harius respect ke istrinya, dengar apa yang dikatakan, pokoknya saling menghargailah. Bagaimana suami dan istri bisa menekana ego masing-masing untuk rumah tanggannya, bagaimana mereka saling berbagi kebahagiaan bukan saling menutut untuk dibahagiakan. Dan hal-hal tesebut itu benar-benar membutuhkan kesiapan mental dan fisik yang matang untuk melewatinya apalagi kalau sudah punya anak kesiapan mental harus jauh lebih kuat lagi.
            Makin kesini pernikahan itu aka nada saja masalahnya entah itu rasa bosan kepasangan masing-masing atau masalah pengambilan keputusan yang salah dan masalah-masalah lain pokoknya dari yang aku tangkap dari teman-teman aku yang sudah nikah mereka semua punya problem masing-masing dan problem mereka itu timbul adalah pada saat mereka sudah nikah beda waktu masih pacaran dulu, mereka masih bisa unyu-unyuan, mesra-mesraan, romantic-romantisan tiap saat setelah menikah ada banyak tanggungjawab yang harus dipikul bukan Cuma tentang mesra-mesraan tadi.
             Oke tentang jargon “nikah muda” sebenarnya buat buat aku sendiri ini itu nggak ada masalah kalo emang sudah ngerasa siap lahir batin, siap dengan segala konsekuensinya dan lain-lain. Tapi kalo orang-orang tua maksa anaknya buat nikah muda atau anaknya sendiri yang kebelet pengen nikah Cuma karena daripada zina atau karena ngikut trend saja sebaiknya JANGAN, PLEASE JANGAN LAKUIN ITU. Nikah bukan buat status yang bikin kalian itu eksis didunia nikah itu tanggungjawab men. Dan yang milih nikah buat ngindarin zina, bagus sih sebenarnya tapi itu bukan alasan yang cukup untuk kamu nikah, mendingan kamu Tanya diri kamu sendiri dulu kamu udah siap atau belum, jangan Cuma sekali dua kali tapi berkali-kali sampe kamu bosan dan akhirnya punya jalan keluar untuk itu. Atau gini deh Tanya orang-orang disekitar kamu mereka-mereka yang sudah nikah 2, 3,4, 5, 10, 20, 30 tahun jangan Tanya enaknya doing Tanya susahnya juga, dengarin semuanya baik-baik sampai kamu punya keputusan untuk itu.
Sekian dulu yah bacotkuh ini dan kalo ada pertanyaan seputar topic ini bisa hubungi aku lewat email: aswitaagussalam@gmail,com atau DM lngsung ke instagram aku aja @aswitaagus

Komentar