Contoh skenario film (drama persahabatan)

“FOBIA”
Written by
Aswita
Skenario Film (Drama Persahabatan)

PEMERAN
Andin :perempuan  yang dingin
Fira :Sahabat Andin
Aisyah ;kakak Fira
Ema :Teman satu kampus Andin
Noval :satu kampus Andin
SINOPSIS
Andin adalah seorang wanita yang berusia 22 tahun, ia terkenal pintar, kaya, cantik, dingin dan tak punya sopan santun tapi ia sangat disegani oleh sebagian mahasiswa di kampusnya.  Ia tidak ingin dekat dengan siapapun karena masih trauma dengan kejadian masa lalunya yang membuatnya memliki ketakutan yang berlebihan terhadap kata “persahabatan”. ia berusaha untuk tampil normal menurutnya (dengan sikapnya yang sekarang) agar tak ada yang mengetahui kejadian masa lalunya yang pahit. Sampai akhirnya ia tak sengaja melihat Aisyah kakak kandung Fira sahabatnya yang sudah meninggal beberapa tahun silam.


EXT. DEPAN RUANG KELAS – SIANG

Noval dan Ema sedang berbincang-bincang mengenai tugas yang harus dikumpulnya beberapa hari kedepan.

NOVAL
Ema gimana ini tugasnya udah mau dikumpul kan? (menggaruk kepala)

EMA
Tau ah. Susah. Kenapa sih setiap tugas yang dikasih dosen itu selalu saja susah (membalikkan badan menghadap Noval).

Andin tiba-tiba muncul dari balik pintu.

ANDIN
Siapa suruh jadi orang bego ! (terus berjalan menuju perpustakaan)

EMA
Heh.. anak songong !! (menunjuk Andin yang terus saja melanjutkan
 perjalanan)

NOVAL
(menarik tangan Ema) udah. Nggak usah diladenin, percuma tau !

EMA
Gini nih yang aku nggak suka dari kalian, direndahin begitu tapi diem saja, dasar pengecut ! (beranjak masuk ke dalam kelas)

NOVAL
Aiiisshh...(menggaruk kepalanya)

EXT. PARKIRAN – SORE

Mama Andin sedang menunggu Andin keluar dari gedung fakultasnya.
Dari belakang Andin dan langsung masuk kedalam mobil tanpa berkata apapun seperti biasanya.



MAMA ANDIN
Kenapa lama bangat sih ? (menyalakan mesin mobil)
ANDIN
Bukan urusan mama.

MAMA ANDIN
Iya iya, kamu baik-baik saja kan ?


ANDIN
Iya

Aisyah (kakak fira) tidak sengaja melihat Andin yang masuk ke dalam mobil.
AISYAH (V.O)
(terkejut) rupanya dia kuliah disini, lama juga tak bertemu dengan keluarga mereka, tapi baguslah jadi aku tidak perlu jauh-jauh untuk mencari mereka.

INT. PERPUSTAKAAN

Andin terkejut Karena melihat jam tangannya, ia sudah terlambat 15 menit masuk dikelas dan bergegas untuk segera meninggalkan perpustakaan.Dan tiba-tiba saja menabrak salah seorang mahasiswi.

MAHASISWI
Aduhhh.. .. .. (sambil berusaha untuk bangun)

ANDIN
(tersenyum sinis dan beranjak pergi)

INT. RUANG KELAS

Andin sedang membaca buku di bangkunya. Tiba-tiba Ema muncul dari balik pintu dan berjalan menuju bangku Andin.

EMA
Heiii anak songong !!... sesulit itu yah minta maaf ke orang lain ? minta maaf nggak ke aku dan orang tadi yang kamu tabrak.


ANDIN
(terus saja membaca buku)

EMA
Dengar nggak sih,? Atau sudah budek ? (memukul meja Andin)

ANDIN
Satu menit saya sangat berharga, karena saking berharganya itu tak pantas kuhabiskan denganmu (beranjak pergi)

EMA
Emang yah kalau orang songong, susah yah diajak ngomong.

EXT. TAMAN DEPAN KAMPUS

Andin sedang duduk melamun.
Dari jauh Aisyah terus saja memantau setiap gerak-gerik Andin,

INT, PERPUSTAKAAN – SIANG

Andin terus berjalan mendekati rak buku faforitnya.
Ia terus saja berusaha mencari buku yang ingin dibaca tapi tak menemukannya.

ANDIN (S.O)
Buku itu siapa sih yang baca padahal kemarin kan aku belum selesai baca. Atau aku Tanya ke petugas perpustakaan saja ?

Andin tiba-tiba terpaku saat melihat seseorang yang tidak asing dihadapannya.

AISYAH
Betapa tidak adilnya Tuhan.
Betapa tidak ikhlasnya aku melihat kamu baik-baik saja sementara keluargaku hancur lebur karenamu pembunuh !!! (melempar buku kearah Andin)

Teriakan Aisyah sontak membuat seisi perpustakaan terkejut.
Semua mata tertuju pada Andin dan Aisyah.



INT. KAMAR ANDIN – SORE
Andin duduk melamun dengan airmata yang tak kuasa ia tahan, masih kepikiran peristiwa tadi siang di perpustakaan.

ANDIN
Arrrrrghhhhh... ... (melempar sebuah benda dikamarnya)

Mama Andin berlari menuju kamar Andin.

MAMA ANDIN
Andin buka pintunya nak. Kamu kenapa sih ? mama khawatir (mengetuk pintu kamar)
Andin tidak menjawab, ia hanya terus-terus saja menangis.
MAMA ANDIN
Nak, mama mohon buka pintunya (memelas kepada Andin)
ANDIN
Aku pembunuh kan Ma ? aku pembunuh !!!
MAMA ANDIN
 (terkejut)

Andin terus saja menangis dan mengulang perkataannya tadi.
Mama Andin sontak terkejut dan terus berusaha untuk membuka pintu kamar Andin, takut anaknya itu melakukan hal yang diluar dugaan.

CUT TO FLASH BACK :

INT, RUANG KELAS – PAGI

Andin dan Fira tidak memperhatikan pelajaran.
Mereka asyik bercerita tentang film yang sudah mereka tonton sambil terus tertawa.

FIRA
Kalau kamu jadi pemeran yang bodoh itu, aku pasti setuju banget Ndin. (lalu tertawa)
ANDIN
Enak aja, aku kan nggak sebego itu (mencubit tangan Fira)

IBU GURU
Kalian berdua kalau tidak mau belajar keluar saja sana (menunjuk kea rah luar ruangan) jangan ganggu teman kalian yang mau belajar.

Andin dan Fira menjawab bersamaan, iya bu (memperbaiki tempat duduknya)

EXT. TAMAN – MALAM
Andin dan Fira membaringkan badan di rerumputan sambil memandang kearah bintang-bintang dilangit.

ANDIN
Fir, nanti kalau lulus SMA kita satu unuversitas kan ? kita satu jurusan kan? Kita satu kelas kan? Kita bareng-bareng terus kan kayak gini ? aku nggak mau punya teman selain kamu Fir. (membalikkan badan kearah Fira)

FIRA
Yah,,, aku sih maunya juga gitu Ndin. Aku nggak mau jauh-jauh dari kamu.

ANDIN
Tapi kan kalau kuliah susah dapat kelas yang sama.

FIRA
Yah setidaknya kan kita satu kampus, nggak jauh-jauh kok.

ANDIN
Iya juga sih.s

EXT, LAPANGAN SEKOLAH – PAGI

Andin, Fira dan seluruh teman-temannya sedang menunggu pengumuman kelulusan dengan sangat antusias.
Saat nama mereka terpampang jelas dan sangat berdekatan, mereka berdua akhirnya teriak bahagia.
Mereka semua memutuskan untuk konvoi dijalan, seperti anak SMA pada umumnya kalalu selesai pengumuman kelulusan.

ANDIN
Fir, ayooo (menarik tangan Fira)

FIRA
Ndin, perasaan aku nggak enak. Kita pulang saja yah.

Keduanya hanya saling memandang satusama lain,
ANDIN
Kamu sakit ?
FIRA
Nggak. Cuma aku takut pergi kayak ginian, bahaya tau. Nggak ada gunanya juga. Kalau sampai kenapa-kenapa siapa yang mau tanggunggungjawab? Nggak ada kan.
ANDIN
Kamu penakut banget sih Fir yah enggaklah. Dengerin aku kita akan baik-baik saja, kita boncengan saja pake motor kamu yah , ayooo (mengeratkan pegangannya).

FIRA
Andin kamu yang harusnya dengerin aku. Perasaan aku nggak enak. Apa untungnya sih kita pergi konvoi. Nggak ada gunanya.
ANDIN
Ya sudah kalau kamu nggak mau, aku akan tetap pergi meskipun kamu nggak ikut. (melepas pegangannya pada tangan Fira).
FIRA
Please, kamu dengaerin aku yah, jangan aku nggak mau kamu kenapa-kenapa Ndin. Aku janji nggak akan nolak apapun yang kamu mau asal jangan pergi.
ANDIN
Fira ini adalah decision yang penting buat kita, ini hanya sekali seumur hidup kita, jadi aku akan pergi kalaupun kamu nggak mau ikut yah sudah . toh yang rugi kamu sendiri bukan aku kan.

FIRA
Tapi Andin...

Andin segera pergi ke parkiran menunggu temannya,Sementara Fira masih terus berjalan dibelakang Andin, mencoba untuk meyakinkan Andin agar ia tak jadi pergi,
ANDIN
Kalau mau pulang, pulang saja sana !!!
FIRA
Aku ikut deh, aku nggak enak, selama ini kita selalu sama-sama masak Cuma gara-gara ini kita harus berantem gini. Kayak anak kecil deh.

ANDIN
(tersenyum bahagia) bener nih ?(langsung memeluk Fira). Gitu dong dari tadi.Aku yang bonceng yah.
FIRA
(tersenyum terpaksa) iya iya.

Mereka semua pun turun ke jalan, membuat macet jalanan. Dengan teriakan-teriakan tidak jelas. Dengan wajah yang berseri-seri karena bahagia.
Tiba-tiba saja ada sebuah bus yang hilsng kendadli dan menabrak setiap kendaraan yang ada dihadapannya termasuk Andin dan Fira.

INT, RUMAH SAKIT
Andin masih terbaring lemah di ruang IGD. Sementara orang tuanya masih dalam perasaan yang sangat khawatir dengannya.

ANDIN (S.O)
Dimana ini ? kenapa badanku sakit semua ?

Andin mulai membuka matanya secara perlahan.
Dan melihat disekelilingnya banyak sekali pasien yang merintih kesakitan, sementara disampingnya ada mama dan papanya yang sedari tadi menunggu ia sadar.

MAMA ANDIN
Andin kamu sudah sadar nak ? kamu baik-baik saja kan ?

Mereka memandang Andin dengan penuh rasa khawatir.
Andin mulai mengingat peristiwa yang terjadi

ANDIN
Fira mana Ma ? dia baik-baik saja kan?

MAMA ANDIN
Mmmm......

ANDIN
Kenapa ma ? mana Fira?

Tiba-tiba Aisyah muncul dari balik pintu IGD dengan wajah masih berbalut airmata.

MAMA ANDIN
(terkejut) semua yang terjadi ini nggak disengaja kok mbak, lihat Andin dia juga terluka, kakinya patah.

AISYAH
Peduli setan !!! (dengan nada penuh amarah).
Kembalikan nyawa adik saya !!

MAMA ANDIN
Tolong jangan seperti ini dihadapan Andin dia masih shock.

ANDIN
(menangis) jadi Fira.....

AISYAH
Iya, kamu sudah membunuhnya.
Kamu menghilangkan nyawa sahabat kamu sendiri.
Dasar pembunuh kamuuu!! (menunjuk kearahAndin).

Petugas rumah sakit berusaha untuk melerai peertikaian ini. Mereka kemudian membawa Aisyah keluar dari ruang IGD.

INT. RUMAH ANDIN – RUANG TENGAH – MALAM

Orang tua Andin mulai mengemas barang-barang yang akan mereka bawa.
Sementara Andin masih belum juga mau diajak bicara.
Iya hanya merenung secara terus – menerus mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Fira.

ANDIN (V.O)
Aku pembunuh.(suaranya gemetar). Aku pembunuh.


EXT. HALAMAN RUMAH – PAGI

Orang tua Andin sibuk memasukkan barang-barang ke bagasi mobil mereka.

PAPA ANDIN
Mama yakin ini semua akan memulihkan keadaan Andin?

MAMA ANDIN
Setidaknya Andin dan kita tidak selalu mendapat terror dari Aisyah. Kalau selalu kayak gini kapan Andin bisa sembuh dari penyakitnya ini. Kita coba sajalah dulu.


FLASH BACK CUT TO:

 INT. KAMAR ANDIN – MALAM

Andin mulai beranjak dari tempat tidurnya menuju jendela, tanpa menghiraukan suara mamanya yang terus saja memohon agar ia membuka pintu.


ANDIN (V.O)
Tuhan itu adil kak Aisyah, apa yang kalian derita sama dengan apa yang aku derita. Kalian kehilangan Fira aku jauh lebih kehilangan.
Bahkan kalian jauh lebih untung dibandingkan dengan diriku.
Kalian tidak pernah punya rasa bersalah yang amat dalam selama hidup kalian, kalian tidak pernah merasa bahwa kalian adalah pembunuh yang berkedok sahabat. Kalian tidak pernah merasakan bagaimana itu mental illness, kalian tidak pernah merasakan bagaimana harus rehab selama bertahun-tahun karena illness dan menunda kesuksesan kalian. Kalian tidak pernah merasakan itu semua.


Tamat ......

Komentar